Sabtu, 03 Oktober 2015

Kisah seorang kakek menjelaskan makna kecantikan sejati

Ada kisah seorang kakek yang menjelaskan makna kecantikan sejati. Menurut kebiasaan keluarga pada zaman dahulu, dalam mencari pasangan hidup diprioritaskan mencari nasab dan keberanian.
Alkisah, ada seorang bangsawan mencari istri. Ia mendapatkan informasi bahwa syaikh Fulan bin Fulan memiliki beberapa orang anak perempuan yang cantik. Bangsawan itu meminang salah seorang putrinya. Melihat hal itu, berkatalah putri tertua kepada pamannya sebab sang ayah telah meninggal. “Paman jadikanlah ia suamiku karena aku adalah anak tertua.” Pinta sang gadis. Pamannya menyetujui permintaan itu dan menikahkannya dengan sang bangsawan.
Tatkala suaminya masuk menemui wanita itu, ia terkejut karena sang istri bukanlah wanita yang sempurna fisiknya seperti yang diinformasikan. Wanita itu kurang cantik dan berpostur pendek. Namun , ia tidak mendapatkan alasan untuk menceraikannya esok pagi. Ia pun tidur membelakangi istrinya di ranjang pengantin.
Sang istri pun terduduk menahan sedih. Ia merasa tidak bersalah dan tak bisa mengubah kekurangan fisiknya. Allah-lah yang telah menciptakannya dengan bentuk seperti itu. Dalam duduknya ia merasakan malam begitu panjang dan pagi tak segera datang.
Saat waktu subuh tiba, sang suami terbangun oleh suara muadzin, ‘Hayya ‘alasshalah, Ash-Shalatu khairun minannaum’. Ketika hendak melaksanakan shalat Subuh, tiba-tiba istrinya menahannya dan mencium kepalanya. Kelelakian dan keluhuran budinya pun sedikit tersentuh dan berbisik, “Aku akan menceraikannya satu bulan lagi.” ini semata-mata agar tidak menjadi buah bibir kaum kerabat dan mereka tidak bertanya-tanya mengapa mereka hanya hidup bersama satu hari saja.
Seiring bergantinya hari, pandangan lelaki itu terhadap istrinya berubah dan berniat tidak menceraikannya. Istrinya pun menjadi wanita yang sangat ia cintai.
Rahasianya, ternyata setiap malam istri tersebut selalu menjaga suaminya di saat tidur dan menceritakan berbagai kisah yang disenanginya sampai ia tertidur. Setelah itu, ia bangun menyelesaikan urusan-urusan rumahnya. Setelah menyelesaikan pekerjaanya, ia pun menebar kelembutan di samping suaminya di peraduan.
Pada suatu hari, suaminya menanyakan, apakah ia sudah mengikat kudanya atau belum. Ia menjawab sudah (padahal belum) karena tidak ingin menganggu perasaan suaminya. Ia bertekad, setelah suaminya tidur, ia akan melakukan pekerjaan itu. Setelah suaminya tertidur, segera ia bangun dan pergi ke kandang kuda untuk mengikatnya. Namun, ternyata kuda itu terkejut dengan kehadiran si istri, kuda itu pun meringkik sehingga membangunkan si suami dari tidurnya.
Dalam keadaan kaget karena bangun tidur, ia mencari tahu apa yang menyebabkan kuda tersebut gelisah. Sekelabat, ia melihat ada seseorang yang duduk di depan kudanya. Ia merasa yakin bahwa orang itu adalah pencuri kuda. Diambilnya senapan dari kamarnya dan diarahkan pada orang tersebut. Ia pun menembak oran itu hingga tewas.
Ketika tahu bahwa yang ditembak adalah istrinya sendiri, ia sangat terpukul dan sedih. Ia peluk istrinya dengan kedua tangannya sambil membersihkan debu-debu yang menempel di tubuh istrinya.
Beberapa waktu kemudian, ia mencari istri baru. Tapi, setiap perempuan yang dinikahinya tak didapati ia memiliki sifat seperti istri pertamanya.
Dari kisah di atas, tampaklah bahwa kecantikan luar akan luntur dan terkubur ketika berhadapan dengan kecantikan tabiat yang ditopang oleh akhlak yang harum dan cara pergaulan yang istimewa.

0 komentar:

Terimakasih, Atas Kunjungan Ke

Diberdayakan oleh Blogger.

Follow Me

berita populer